Rahasia Pantai Biru
‘Dimana
ada Eda, disitulah ada Tika’ , itulah yang sering dikatakan teman-teman kami.
Aku dan Tika sudah berteman sejak SD sampai sekarang, kelas 9 SMP. Kami sudah seperti
kakak beradik, atau bahkan saudara kembar yang kemana-mana selalu berdua.
Terkadang teman-teman heran, bagaimana bisa Aku yang tomboy dan cerewet ini
bersahabat dengan Tika yang pendiam dan pemalu. Namun, perbedaan itu yang
membuat kami saling melengkapi satu sama lain.
“Tik,
pulang yuk!” , seruku dari depan kelas memanggil Tika.
“Tunggu
bentar, Da!” , jawabnya sambil mengobrak-abrik laci meja.
“Kamu
lagi nyari apa sih, Tik? Kayaknya sibuk banget.” , tanyaku sambil mulai
mendekati Tika.
“Nyari
kertas, Da. Warnanya biru, ada tulisannya.”
“Ya elah,
Cuma kertas aja. Kamu kan masih punya banyak di bindermu.”
“Masalahnya
bukan di kertasnya, da. Tapi isi nya.” , dia menjelaskan sambil terus mencari.
Aku
membantu mencari, walau sesungguhnya Aku sangat bête hari ini. Hari ini Aku
dimarahin dua kali karena tidak bisa mengerjakan soal.
“Ini
bukan Tik, kertasnya?” , tanyaku sambil memungut kertas bewarna biru dari
lantai. Kertas itu terlipat dua, jadi Aku tidak melihat apa isinya.
“Iya
benar. Makasih ya, Da. Oke, sekarang kita pulang.”
“Tik,
ke tempat biasa yuk. Lagi bête nih.” kataku sambil mengayuh sepeda.
“Ayuk.
Cie-cie, bête karena dimarahin tadi ya?”
“Iya.
Eeeghh… sebel.”, jawabku.
Aku mengayuh
sepeda lebih cepat sambil terus mengomel. Angin sepoi-sepoi menemani kami
sepanjang jalan. Dikanan dan kiri hanya ada hamparan sawah hijau membentang.
Langit
biru, derunya ombak dan suara kicauan burung mengisi kesunyian di tempat ini.
Ditambah dengan pasir yang putih dan kerang beraneka warna. Ini lah yang kami
sebut dengan ‘Pantai Biru’. Tempat ini terpencil dan hanya diketahui Aku dan
Tika. Kami selalu pergi kesini untuk menenangkan diri atau hanya untuk
bercerita. Di tempat ini penuh dengan biru, Aku dan Tika memiliki warna
kesukaan yang sama, yaitu biru. Maka dari itu, tempat ini kami sebut ‘Pantai
Biru’. Kami langsung menghempaskan diri ke pasir putih itu.
“Eh, Tik.
Kertas yang tadi itu apasih isinya? Kayaknya penting banget.” , kataku memulai
pembicaraan.
“oh,
gak ada apa-apa kok.” , jawabnya.
“Ayolah.
Kita sudah berteman dari SD, masak Kamu gak mau kasih tau.” , balasku sambil
berusaha duduk.
“Iya
deh, Aku kasih tau. Tapi kamu jangan ketawa ya” , katanya sambil mengeluarkan
kertas tadi di kantong roknya.
“iya,
Tik. Suer deh Aku gak bakal ketawa.”
Tika
lalu memberikan kertas itu, Aku membacanya dengan seksama.
“Ini
lirik lagu ya Tik?” , tanyaku.
“Iya,
itu Aku buat sendiri.” , dia menjawab dengan ragu-ragu.
“Liriknya
bagus. Kayaknya kamu berbakat menjadi penulis lagu, Tik”
“Apa
iya, Da? Sebenarnya Aku memang bercita-cita ingin menjadi seorang penulis lagu.”
“Beneran,
Tik? Aku mendukung banget!”
“Makasih,
Da! Oh iya, Aku juga ingin membuat lagu tentang persahabatan kita berdua.”
Akupun
langsung berdiri dan berteriak.
“Waah!
Ide bagus, Tik. Kamu memang pintar. Jadi kita bisa mengabadikan persahabatan
kita di lagu itu.”
“Mulai
besok, kita latihan nyanyi dan membuat lagu di sini ya. Kamu adalah calon
penyanyi masa depan, Tik.” , lanjutku sambil tertawa. Kami terus membahas
tentang lagu itu sampai matahari terbenam.
Sejak
saat itu, Aku selalu menemani Tika latihan bernyanyi di sini. Awalnya Tika
masih malu untuk bernyanyi di depan banyak orang. Bahkan di depanku, sahabatnya
sendiri masih grogi. Aku terus menyemangatinya dan mengusulkan agar Tika
bernyanyi sambil bermain gitar. Ia menerima usulku, tapi harga gitar itu
terlalu mahal dan tidak mungkin bisa membelinya.
Sebulan lagi Tika akan ulang tahun, Aku
ingin memberikan gitar kepada Tika. Dan ku dengar, Cika anak Sembilan kelas
sebelah ingin menjual gitarnya. Tanpa sepengetahuan Tika, Aku bertemu dengan
Cika di kelasnya.
“Hai,
Cika. Kamu mau menjual gitar kamu ya?”
“Iya,
kenapa? Kamu ingin membelinya?”
“Ingin
nya begitu, tapi Aku tidak punya uang. Mungkin Aku bisa bekerja membersihkan
rumahmu dan mengerjakan sawah selama satu bulan. Dan uang hasil kerjaku di
rumahmu untuk membeli gitarmu itu. Bisakan, Cik?”
“Baiklah,
mulai besok Kamu bisa bekerja di rumahku.”
“Terima
kasih, Cika.”
Semenjak
itu, setiap pulang sekolah Aku langsung ke rumah Cika. Itu menyebabkan Aku
jarang bermain dengan Tika lagi. Demi targetku untuk membelikan gitar sebagai
hadiah ulang tahun Tika. Aku jadi kurang tidur dan tidak konsentrasi di
sekolah. Kadang Aku pulang hingga larut malam, karna harus mencuci dan
menggosok baju keluarga Tika yang sangat banyak itu. Genap sebulan sudah Aku
bekerja di rumah Cika.
“Tik,
hari ini kamu bawa sepeda kan? Aku tunggu di tempat biasa ya.” , kataku
sepulang sekolah. Hari itu Tika piket, jadi pulangnya memang sedikit telat.
“Oke,
Da.”
Biasanya
Aku menunggu Tika hingga selesai Piket, namun kali ini aku ingin mengambil
gitar terlebih dahulu di rumah Cika. Sayangnya Cika tak ada di rumah, jadi Aku
langsung ke Pantai Biru. Entah dari mana, tiba-tiba Cika datang mengejutkanku.
Mungkin ia mengikutiku. Akupun menyusun rencana untuk kejutan ulang tahun Tika
nanti. Selang beberapa menit, Tika pun datang.
“Hai,
Tik. Lama banget sih datengnya” , sapaku dengan senyum dan melambaikan tangan
kepadanya.
Tika
hanya diam tak membalas senyumanku, ia langsung menarikku, menjauhi Cika.
“Da,
kenapa ada Cika disini?” , tanyanya setelah merasa cukup jauh dari Cika.
“Oh,
si Cika? Dia hanya..…”
Belum
sempat aku menjawab, Tika langsung memotong perkataanku.
“Kenapa
Kamu membawanya kesini? Bukankan ini tempat rahasia kita berdua.”
Dia tak memberikan kesempatan kepadaku untuk
menjelaskan itu. Matanya mulai berkaca-kaca dan berlari menuju sepedanya. Aku
segera mengejarnya dan meninggalkan Cika sendiri disana. Aku terus berusaha
memanggilnya dan menyuruhnya untuk berhenti. Namun, ia tidak memperdulikannya.
Kami berkejar-kejaran di sepanjang jalan kecil yang hanya bisa dilewati satu
mobil itu. Akhirnya, Aku bisa mengejarnya karena aku adalah atlit olahraga di
sekolah.
“Tika, dengarkan penjelasan Aku dulu….”
Aku
mencoba menjelaskan kepada Tika tanpa memperhatikan depan. Namun, tiba-tiba… BRAAAAAAAAAAAAAK!!!
Sebuah mobil menabrakku. Aku terlempar ke pinggir jalan. Aku merasakan sakit
yang luar biasa, darah begitu banyak keluar dari kepala ku. Kemudian Tika dan
pengemudi mobil itu berlari mendekatiku.
“Tika…..”
, aku memanggil dengan sisa-sisa tenaga yang ku miliki.
“Iya…
Da, Aku disini. Tenang, ambulan sebentar lagi datang. Kamu akan selamat.” , katanya
sambil menggenggam tanganku.
“Maaf
ya, Tik. Aku udah bikin kamu nangis. Dan Happy Birthday Tika…” , setelah itu,
Aku tak sadarkan diri.
Ketika tersadar, Aku sudah di rumah sakit. Kulihat
Tika dan keluargaku ada di sekelilingku.
“Eda,
Kamu udah sadar? Maafin Aku ya, Da. Karena Aku kamu jadi begini. Aku udah
denger semuanya. Makasih ya, Da. Untuk gitarnya, Aku sayang banget dengan kamu.
Aku gak pengen ada yang lain, makanya Aku begitu. Maafin Aku.” , iya pun
menangis dan memelukku.
“Iya,
Tik. Gak papa. Maaf kalau gitar yang Aku beri itu bekas. Aku juga sayang dengan
kamu.” , jawabku sambil membalas pelukannya.
Semenjak
itu, hubungan kami semakin dekat. Peristiwa itu
kami jadikan pelajaran, bahwa kita harus saling percaya satu sama lain.
Dan kita juga tidak boleh berperasangka yang tidak baik sebelum kita mengetahui
yang sebenarnya. Kami memiliki mimpi bisa bernyanyi berdua, dengan Tika yang
memainkan gitarnya. Lagu yang di ciptakan Tika berjudul ‘Sahabat Sejati’. Dan
kami berjanji akan menjadi Sahabat untuk selamanya.
Nama :Feby Amanda Salsabilla
Kelas :IXA
Pelajaran :Tugas
membuat Cerpen (Bahasa Indonesia)
Tema :Persahabatan
Tokoh :Eda, Tika, Cika