Labels

Monday, 16 February 2015

Petir dan Penangkalnya



PETIR dan PENANGKAL PETIR


PETIR
Sebelum kita berbicara tentang petir, terlebih dahulu kita mengetahui definisi Petir itu sendiri. Ada beberapa definisi petir diantaranya:
  • Petir adalah peristiwa alam yang sering terjadi di bumi, terjadinya seringkali mengikuti peristiwa hujan baik air atau es, peristiwa ini dimulai dengan munculnya awan hitam dan lidah api listrik yang bercahaya terang yang terus memanjang kearah bumi bagaikan sulur akar dan kemudian diikuti suara yang menggelegar dan efeknya akan fatal bila mengenai mahluk hidup.
  • Petir merupakan gejala alam yang biasanya muncul pada musim hujan dimana di langit muncul kilatan cahaya sesaat yang menyilaukan dan beberapa saat kemudian disusul oleh suara yang menggelegar.
  • Petir adalah salah satu kejadian alam yang sangat indah. Petir juga merupakan fenomena alam akan ancaman kematian bagi manusia. Dengan temperatur sambaran melebihi panas permukaan matahari dan kekuatan benturan yang menyebar ke segala arah, petir merupakan pelajaran kejadian fisik ilmiah.

 Proses terjadinya petir
Proses terjadinya petir akibat perpindahan muatan negatif (elektron) menuju ke muatan positif (proton). Para ilmuan menduga ada beberapa tahapan kejadian sebelum terjadinya petir. Pertama adalah penempatan muatan listrik pada awan bersangkutan. Umumnya, akan menumpuk di bagian paling atas awan adalah listrik muatan negatif, di bagian tengah adalah listrik bermuatan positif, sementara di bagian dasar adalah muatan negatif yang berbaur dengan muatan positif, pada bagian inilah petir biasa berlontaran. Petir dapat terjadi antara awan dengan awan, dalam awan itu sendiri, antara awan dan udara, antara awan dengan tanah (bumi).
Ada juga yang mengatakan bahwa Petir terjadi karena adanya perbedaan potensial antara awan dan bumi. Proses terjadinya muatan pada awan karena pergerakannya yang terus menerus secara teratur, dan selama pergerakan itu dia akan berinteraksi dengan awan lainnya sehingga muatan negative akan berkumpul pada salah satu sisi, dan muatan positif pada sisi sebaliknya. Jika perbedaan potensial antara awan dan bumi cukup besar, maka akan terjadi pembuangan muatan negatif (electron) untuk mencapai kesetimbangan. Pada proses ini, media yang dilalui electron adalah udara, dan pada saat electron mampu menembus ambang batas isolasi udara inilah akan terjadi ledakan suara yang menggelegar. Petir lebih sering terjadi pada musim hujan karena pada keadaan tersebut udara mengandung kadar air yang lebih tinggi sehingga daya isolasinya turun dan arus lebih mudah mengalir. Karena adanya awan yang bermuatan positif dan negatif, maka petir juga bisa terjadi antar awan yang berbeda muatan.
Pada dasarnya petir dan kilat terjadi pada waktu yang bersamaan,tetapi karena kecepatan cahaya lebih cepat dari pada kecepatan bunyi sehingga mengakibatkan yang pertama tampak adalah kilat/cahaya, baru kemudian disusul dengan bunyi halilintar atau yang biasa kita sebut dengan petir.

Terdapat dua teori tentang proses terjadinya petir yaitu:
  1. Proses Ionisasi
  2. Proses Gesekan Antar Awan

Proses Ionisasi
Sambaran petir merupakan peristiwa alam yaitu proses pelepasan muatan listrik  (Electrical Discharge) yang terjadi diatmosfer. Hal ini disebabkan oleh terkumpulnya ion bebas bermuatan negatif dan positif di awan, ion listrik dihasilkan oleh gesekan antar awan dan kejadian Ionisasi ini disebabkan oleh perubahan bentuk air mulai dari cair menjadi gas atau sebaliknya, bahkan perubahan padat (es) menjadi cair.
Ion bebas menempati permukaan awan dan bergerak mengikuti angin yang berhembus, bila awan-awan terkumpul di suatu tempat maka awan bermuatan akan memiliki beda potensial yang cukup untuk menyambar permukaan bumi maka inilah yang disebut petir.
Harus diingat bahwa ionisasi bukan berarti bahwa lebih banyak ion negatif atau ion positif dibanding sebelumnya.Tapi Ionisasi ini berarti bahwa electron dan ion positif terpisah sangat jauh dibanding bentuk molekul sebelumnya atau bentuk struktur atomic. Intinya electron electron telah terbongkar dari struktur molekuler dari udara yang tidak terionisasi.

 Proses Gesekan Antar Awan
Pada awalnya awan bergerak mengikuti arah angin, selama proses bergeraknya awan ini maka saling bergesekan satu dengan yang lainya, dari proses ini terlahir electron-electron bebas yang memenuhi permukaan awan. Proses ini bisa di simulasikan secara sederhana pada sebuah penggaris plastik yang digosokkan pada rambut maka penggaris ini akan mampu menarik potongan kertas.
Pada suatu saat awan ini akan terkumpul di sebuah kawasan, saat inilah petir dimungkinkan terjadi karena electron-elektron bebas ini saling menguatkan satu dengan lainnya. Sehingga memiliki cukup beda potensial untuk menyambar permukaan bumi. kedua teori ini mungkin masuk akal meski kejadian sebenarnya masih merupakan sebuah misteri

PENANGKAL PETIR

Manusia selalu mencoba untuk menjinakkan keganasan alam,atau setidaknya menghidarinya, salah satunya adalah Sambaran Petir. Lalu para ilmuan mencoba menciptakan sesuatu untuk menghindarinya yaitu Penangkal Petir.
 Sebenarnya kita telah salah kaprah dengan kata Anti Petir atau Penangkal Petir. Kesan yang ditimbulkan oleh kedua istilah ini adalah aman 100 %  aman terhadap petir, akan tetapi kejadiannya tidak demikian. Pada dasarnya pengaman sambaran petir langsung / Eksternal bukan membuat posisi kita aman 100 % terhadap petir, akan tetapi membuat posisi bangunan kita terhindar dari kerusakan fatal akibat sambaran Langsung, serta meminimalisir efek kerusakan pada peralatan elektronik bila ada petir yang menyambar bangunan kita. Mungkin kita bias menyebutnya dengan Penyalur Arus Petir.
            Masih ada kemungkinan lain yakni sambaran petir tidak langsung , yakni sambaran petir yang pada dasarnya tidak mengenai lokasi bangunan tetapi mengenai jauh diluar lokasi tetapi arus petir merambat masuk ke jaringan instalasi listrik di bangunan dan merusak peralatan elektronik, Untuk penanganan sambaran petir tidak langsung dapat digunakan Arrester yakni perangkat yang bisa memotong dan membelokkan lonjakan arus / tegangan petir ke dalam tanah .
            Beberapa penangkal petir yang digunakan:
  1. . Penangkal Petir Kovensional / Faraday / Frangklin
Kedua ilmuan diatas Faraday dan Frangklin mengetengahkan system yang hampir sama , yakni system penyalur arus listrik yang menghubungkan antara bagian atas bangunan dan grounding. Sedangkan system perlindungan yang dihasilkan ujung penerima / Splitzer adalah sama pada rentang 30 ~ 45 ‘ . Perbedaannya adalah system yang dikembangkan oleh Faraday bahwa Kabel penghantar terletak pada sisi luar bangunan dengan pertimbangan bahwa kabel penghantar juga berfungsi sebagai penerima sambaran, Berupa sangkar elektris atau biasa disebut sangkar Faraday.
2. Penangkal Petir Radio Aktif
Penelitian terus berkembang akan sebab terjadinya petir , dan dihasilkan kesimpulan bahwa petir terjadi karena ada muatan listrik di awan yang dihasilkan oleh proses ionisasi , maka penggagalan proses ionisasi di lakukan dengan cara memakai Zat beradiasi misl. Radiun 226 dan Ameresium 241 , karena 2 bahan ini mampu menghamburkan ion radiasinya yang bisa menetralkan muatan listrik awan.Sedang manfaat lain adalah hamburan ion radiasi akan menambah muatan pada Ujung Finial / Splitzer dan bila mana awan yang bermuatan besar yang tidak mampu di netralkan oleh zat radiasi kemudian menyambar, maka akan condong mengenai penangkal petir ini.
Keberadaan penangkal petir jenis ini sudah dilarang pemakaiannya , berdasarkan kesepakatan internasional dengan pertimbangan mengurangi pemakaian zat beradiasi dimasyarakat yang disinyalir mempunyai efek negatif pada lingkungan hidup dan kesehatan.
3. Penangkal Petir Elektrostatic
Prinsip kerja penangkal petir Elektrostatik mengadopsi sebagian system penangkal petir Radioaktif , yakni menambah muatan pada ujung finial / splitzer agar petir selalu memilih ujung ini untuk disambar .
Perbedaan dari sistem Radioaktif dan Elektrostatik ada pada energi yang dipakai. Untuk Penangkal Petir Radioaktif muatan listrik dihasilkan dari proses hamburan zat beradiasi sedangkan pada penangkal petir elektrostatik energi listrik dihasilkan dari Listrik Awan yang menginduksi permukaan bumi.
4.   Penangkal Petir NeoFlash
Cara kerja dari penangkal petir Neoflash ini yaitu, Ketika awan bermuatan listrik melintas diatas sebuah bangunan yang terpasang penangkal petir neoFlash, maka elektroda penerima pada bagian samping penangkal petir neoFLASH ini mengumpulkan dan menyimpan energi listrik awan pada unit kapasitornya . Setelah energi ini cukup besar maka dilepas dan diperbesar beda potensialnya pada bagian Ion Generator.
Pelepasan muatan listrik pada unit Ion Generator ini di picu oleh sambaran, yakni ketika lidah api menyambar permukaan bumi maka semua muatan listrik di bagian ion generator dilepaskan keudara melalui Central Pick Up agar menimbulkan lidah api penuntun keatas ( Streamer leader ) untuk menyambut sambaran petir yang terjadi kemudian menuntunya masuk kedalam satu titik sambar yang terdapat unit Neoflash ini.
Kerja Simultan
Pada unit Penangkal Petir NEOFLASH secara simultan bekerja bergantian dari masing-masing unit penerima induksi , jumlahnya tergantung dari tipe dan modelnya. Bekerjanya secara bergantian dimana bila salah satu bagian unit melepaskan muatan ke udara / streamer maka ada bagian yang dalam proses pengisian muatan awan.
Tentu akurasi dan kemampuan Penangkal Petir NeoFlash masih tergantung dari 2 hal pendukung instalasi, yaitu:
  1. Kabel Penghantar harus minimal 50 mm
  2. Grounding maksimal 5 Ohm
Bila 2 syarat pendukung ini sudah terpenuhi maka kemampuan penangkal petir neoflash akan maksimal.

CARA KERJA PENANGKAL PETIR


Petir adalah peristiwa alam yang sering terjadi di bumi, terjadinya seringkali mengikuti peristiwa hujan baik air atau es, peristiwa ini dimulai dengan munculnya lidah api listrik yang bercahaya terang yang terus memanjang kearah bumi dan kemudian diikuti suara yang menggelegar dan efeknya akan fatal bila mengenai mahluk hidup. PROSES TERJADINYA PETIR
Terdapat 2 teori yang mendasari proses terjadinya petir :
1. Proses Ionisasi
2. Proses Gesekan antar awan
a. Proses Ionisasi
Petir terjadi diakibatkan terkumpulnya ion bebas bermuatan negatif dan positif di awan, ion listrik dihasilkan oleh gesekan antar awan dan juga kejadian Ionisasi ini disebabkan oleh perubahan bentuk air mulai dari cair menjadi gas atau sebaliknya, bahkan padat (es) menjadi cair.
Ion bebas menempati permukaan awan dan bergerak mengikuti angin yang berhembus, bila awan-awan terkumpul di suatu tempat maka awan bermuatan akan memiliki beda potensial yang cukup untuk menyambar permukaan bumi maka inilah yang disebut petir.
b.Gesekan antar awan
Pada awalnya awan bergerak mengikuti arah angin, selama proses bergeraknya awan ini maka saling bergesekan satu dengan yang lainya , dari proses ini terlahir electron-electron bebas yang memenuhi permukaan awan. proses ini bisa digambarkan secara sederhana pada sebuah penggaris plastic yang digosokkan pada rambut maka penggaris ini akan mampu menarik potongan kertas.
Pada suatu saat awan ini akan terkumpul di sebuah kawasan, saat inilah petir dimungkinkan terjadi karena electron-elektron bebas ini saling menguatkan satu dengan lainnya. Sehingga memiliki cukup beda potensial untuk menyambar permukaan bumi.
PERLINDUNGAN TERHADAP BAHAYA PETIR
Manusia selalu mencoba untuk menjinakkan keganasan alam, salah satunya adalah Sambaran Petir. dan metode yang pernah dikembangkan:
1. Penangkal Petir Kovensional / Faraday / Frangklin
Kedua ilmuan diatas Faraday dan Frangklin mengketengahkan system yang hampir sama , yakni system penyalur arus listrik yang menghubungkan antara bagian atas bangunan dan grounding . Sedangkan system perlindunga yang dihasilkan ujung penerima / Splitzer adalah sama pada rentang 30 ~ 45 ‘ . Perbedaannya adalah system yang dikembangkan oleh Faraday bahwa Kabel penghantar terletak pada sisi luar bangunan dengan pertimbangan bahwa kabel penghantar juga berfungsi sebagai penerima sambaran, Berupa sangkar elektris atau biasa disebut sangkar Faraday.

2. Penangkal Petir RadioAktif
Penelitian terus berkembang akan sebab terjadinya petir , dan dihasilkan kesimpulan bahwa petir terjadi karena ada muatan listrik di awan yang dihasilkan oleh proses ionisasi , maka penggagalan proses ionisasi di lakukan dengan cara memakai Zat berradiasi misl. Radiun 226 dan Ameresium 241 , karena 2 bahan ini mampu menghamburkan ion radiasinya yang bisa menetralkan muatan listrik awan.
Sedang manfaat lain adalah hamburan ion radiasi akan menambah muatan pada Ujung Finial / Splitzer dan bila mana awan yang bermuatan besar yang tidak mampu di netralkan zat radiasi kemuadian menyambar maka akan condong mengenai penangkal petir ini.
Keberadaan penangkal petir jenis ini sudah dilarang pemakaiannya , berdasarkan kesepakatan internasional dengan pertimbangan mengurangi pemakaian zat beradiasi dimasyarakat.
3. Penangkal Petir Elektrostatic
Prinsip kerja penangkal petir Elektrostatik mengadopsi sebagian system penangkal petir Radioaktif , yakni menambah muatan pada ujung finial / splitzer agar petir selalu memilih ujung ini untuk disambar .
Perbedaan dari sisten Radioaktif dan Elektrostatik ada pada energi yang dipakai. Untuk Penangkal Petir Radioaktif muatan listrik dihasilkan dari proses hamburan zat berradiasi sedangkan pada penangkal petir elektrostatik energi listrik dihasilkan dari Listrik Awan yang menginduksi permukaan bumi
MEKANISME KERJA PENANGKAL PETIR FLASH VECTRON

Penangkal petir Flash Vectron merupakan penangkal petir modern yang berbasis kerja E.S.E (Early Streamer Emission) Sistem ESE bekerja secara aktif dengan cara mengumpulkan ion dan melepaskan ion dalam jumlah besar ke lapisan udara sebelum terjadinya sambaran petir. Pelepasan ion ke udara secara otomatis akan membuat jalur untuk menuntun petir agar selalu memilih ujung Terminal Petir Flash Vectron ini dari pada areal sekitarnya. Dengan sistem ini akan meningkatkan areal perlindungan yang lebih luas dari pada sistem penangkal petir konvensional.
Disaat ada awan mendung melintas di atas bangunan yang dilindungi antipetir/penangkal petir Flash Vectron. Elektroda terpasang di dalam peralatan akan mengumpulkan dan menyimpan energi dari awan yang bermuatan listrik di dalam kapasitor yang mampu diisi ulang, setelah cukup besar kemudian dikirim ke unit ION GENERATOR. Ketika banyak energi petir di atmosfer maka awan menginduksi unit ION GENERATOR. Informasi ini di olah dalam unit Ion Generator untuk di manfaatkan sebagai memicu pelepasan energi. Akibat dari pelepasan energi yang menghentak ini akan menghasilkan lidah api penuntun ke udara (Streamer Leader) melalui Batang Utama penangkal petir Flash Vectron, lidah api penuntun ini yang kemudian di sambut oleh petir


Proses terjadinya petir akibat perpindahan muatan negatif (elektron) menuju ke muatan positif (proton). Para ilmuwan menduga lompatan bunga api listriknya sendiri terjadi, ada beberapa tahapan yang biasanya dilalui. Pertama adalah pemampatan muatan listrik pada awan bersangkutan. Umumnya, akan menumpuk di bagian paling atas awan adalah listrik muatan negatif, di bagian tengah adalah listrik bermuatan positif, sementara di bagian dasar adalah muatan negatif yang berbaur dengan muatan positif, pada bagian inilah petir biasa berlontaran. Petir dapat terjadi antara awan dengan awan, dalam awan itu sendiri, antara awan dan udara, antara awan dengan tanah (bumi).

Mekanisme terjadinya sambaran petir dibagi menjadi 2, yaitu :
1. Sambaran Perintis (Initial Leader)
Peralihan muatan ke tanah dimulai dengan sambaran yang menjalar ke dekat dasar daerah bermuatan negatip dengan sambaran yang menjalar kedekat dasar daerah bermuatan negatip dalam awan melalui beberapa tahapan. Tiap tahapan akan terlihat sebagai kilatan petir yang bertambah. hal ini disebabkan oleh udara yang terionisasi di ujung sambaran. sambaran perintis menuju ke tanah dengan kecepatan rata-rata 10^8 cm/detik melalui zig-zag. Sambaran ini membawa muatan negatip sepanjang lintasannya sehingga menciptakan medan magnet listrik dalam ruang antara ujung sambaran perintis dengan tanah.
2. Sambaran Balik (Return Stroke)
Pada saat sambaran perintis mencapai ketinggian tertentu dari permukaan bumi maka dimulailah sambaran bermuatan positip ke atas untuk menemui ujung sambaran perintis yang bermuatan negatip. Kilasan cahaya dari sambaran balik ini jauh lebih besar dari sambaran perintis. Sambaran balik menjalar melalui lintasan sambaran perintis yang terionisasi dengan kecepatan 3.10^9 cm/detik. Arus dari sambaran balik inilah yang menjadi arus utama petir yang berkisar 5 kA sampai 200 kA dengan nilai rata-rata arus puncak 20 kA.

Jika kita memperhatikan bahaya yang di akibatkan sambaran petir, maka sistem perlindungan petir harus mampu melindungi struktur bangunan atau fisik maupun melindungi peralatan dari sambaran langsung dengan di pasangnya penangkal petir eksternal (Eksternal Protection) dan sambaran tidak langsung dengan di pasangnya penangkal petir internal (Internal Protection) atau yang sering di sebur surge arrester serta pembuatan grounding system yang memadai sesuai standart yang telah di tentukan. sampai saat ini belum ada alat atau system proteksi petir yang dapat melindungi 100 % dari bahaya sambaran petir, namun usaha perlindungan mutlak dan wajib sangat di perlukan. Selama lebih dari 60 tahun pengembangan dan penelitian di laboratorium dan lapangan terus dilakukan, berdasarkan usaha tersebut suatu rancangan system proteksi petir secara terpadu telah di kembangan oleh Flash Vectron Lightning Protection ”SEVEN POINT PLAN”.
Tujuan dari “SEVEN POINT PLAN” adalah menyiapkan sebuah perlindungan efective dan dapat di andalkan terhadap serangan petir, “Seven Point Plan‘ tersebut meliputi :
 
1. Menangkap Petir Dengan cara menyediakan system penerimaan (Air Terminal Unit) yang dapat dengan cepat menyambut sambaran arus petir, dalam hal ini mampu untuk lebih cepat dari sekelilingnya dan memproteksi secara tepat dengan memperhitungkan besaran petirTerminal Petir Flash Vectron mampu memberikan solusi sebagai alat penerima sambaran petir karena desainnya dirancang untuk digunakan khusus di daerah tropis.
2. Menyalurkan Arus Petir
Sambaran petir yang telah mengenai terminal penangkal petir sebagai alat penerima sambaran akan membawa arus yang sangat tinggi, maka dari itu harus dengan cepat disalurkan ke bumi (grounding) melalui kabel penyalursesuai standart sehingga tidak terjadi loncatan listrik yang dapat membahayakan struktur bangunan atau membahayakan perangkat yang ada di dalam sebuah bangunan.
3. Menampung Petir
Dengan cara membuat grounding system dengan resistansi atau tahanan tanah kurang dari 5 Ohm. Hal ini agar arus petir dapat sepenuhnya diserap oleh tanah tanpa terjadinya step potensial. Bahkan dilapangan saat ini umumnya resistansi atau tahanan tanah untuk instalasi penangkal petir harus dibawah 3 Ohm.
4. Proteksi Grounding System
Selain memperhatikan resistansi atau tahanan tanah, material yang digunakan untuk pembuatan grounding juga harus diperhatikan, jangan sampai mudah korosi atau karat, terlebih lagi jika didaerah dengan dengan laut. Untuk menghindari terjadinya loncatan arus petir yang ditimbulakn adanya beda potensial tegangan maka setiap titik grounding harus dilindungi dengan cara integrasi atau bonding system.
5. Proteksi Petir Jalur Power Listrik
Proteksi terhadap jalur dari power muntak diperlukan untuk mencegah terjadinya induksi yang dapat merusah peralatan listrik dan elektronik.
6. Proteksi Petir Jalur PABX
Melindungi seluruh jaringan telepon dan signal termasuk pesawat faxsimile dan jaringan data.
7. Proteksi Petir Jalur Elektronik
Melindungi seluruh perangkat elektronik seperti CCTV, mesin dll dengan memasang surge arrester elektronik

pencegahan, Penyebab Banjir dan Solusinya


Banjir secara sederhana didefinisikan sebagai meluapnya air dari saluran air (sungai, gorong-gorong) karena kelebihan debit air. Air pada prinsipnya tidak pernah menghilang karena air mengalami perputaran atau siklus air. Air dari laut atau darat menguap menjadi awan, jadilah turun hujan. Mengalir kembali lewat sungai atau meresap ke tanah dan nantinya kembali ke laut. Jika siklus air ini tidak seimbang maka dapat menyebabkan banjir.

Banjir disebabkan karena setoran air yang melebihi batas daya tampungnya. Daya tampung di sini adalah ukuran dari sungai atau kecepatan resapan ke tanah. Debit yang berlebihan ini secara umum disebabkan oleh :
  • Curah hujan tinggi dan terus menerus
  • Kiriman air dari daerah yang lebih tinggi.

Khusus untuk kejadian banjir di Jakarta kemaren, dua hal tersebut yang menjadi penyebabnya. Lalu, bagaimana cara mengatasi atau meminalisasi banjir?
1. Menghitung debit air pada saat worst-case (atau kasus terburuk). Langkah ini digunakan untuk menghitung volume air yang masuk dalam waktu tertentu terutama dalam kondisi terburuk. Kondisi terburuk dapat mengacu kepada kejadian bencana terburuk terakhir. Debit air baik dari curah hujan maupun kiriman harus bisa dihitung dalam rentang rata-rata serta maksimumnya.

2. Hasil perhitungan debit air ini digunakan sebagai acuan untuk evaluasi apakah kanal air yang dimiliki saat ini sudah cukup atau belum. Jika belum maka dapat dilakukan dengan :
  • Menambah kanal air atau kanal banjir
  • Mengeruk sungai yang dangkal
  • Memperlebar sungai dengan cara mengurangi pemukiman di pinggir sungai.
  • Membuat banyak terowongan air atau gorong-gorong ukuran besar
  • Atau yang ekstrim adalah membuat tandon raksasa semacam waduk untuk

3. Langkah yang lain adalah membuat air cepat meresap ke tanah. Karena supaya tidak banjir maka air harus dialirkan ke tempat yang lebih rendah atau meresap ke tanah.
Untuk itu, kota-kota besar semacam Jakarta seharusnya sudah harus semakin gencar membuat resapan air hujan. Ruang terbuka harus semakin diperbanyak, ruang hijau juga diperbanyak. Daerah-daerah yang potensial buat resapan air jangan dibuat untuk bangunan. Harus ada daerah atau titik tertentu yang dikorbankan untuk tidak dibangun apa-apa khusus untuk resapan air saja. Jakarta saat ini sudah banyak gedung, jalan aspal, jalan dibeton, sehingga resapan untuk air semakin berkurang.

4. Kepedulian terhadap banjir
Salah satu isu penting dalam menghadapi banjir adalah kepedulian masyarakat termasuk pimpinan daerah dalam mengelola kota dengan lebih baik. Jika pimpinan hanya mengedapankan bisnis tanpa memperhatikan aspek lingkungan maka lama-lama bisnis juga tidak jalan karena kondisi banjir di mana-mana. Masyarakat juga harus lebih sadar, misal dengan tidak membuang sampah di sungai, inisiatif membuat sumur resapan, dengan sukarela tidak membangun di bantaran sungai, dsb. Jika masyarakat telah teredukasi dan melakukan ini semua untuk kepentingan bersama maka bencana banjir dapat dihindarkan sedini mungkin.

Banjir bukan hanya tanggung jawab Pemerintah Daerah saja tetapi tanggung jawab kita bersama.

Meski hal ini masih jauh dari harapan, kita tetap harus optimis dan positif bahwa bangsa kita mau berubah. Semoga dengan bencana seperti ini, kita lebih semakin sadar dan mau peduli terhadap alam dan lingkungan.

penyebabnya yang lain adalah



  • Resapan air yg minim, hingga 2011 wilayah hijau hanya 13,94 % atau 96.6 km2 dari luas Jakarta 661.52 km2. pembangunan yang amat sangat tidak berimbang di Jakarta menghabiskan wilayah ideal untuk ruang hijau dan resapan air.
  • Sistem drainase yang buruk dan lokasi tampungan air yang minim, dari 266 sungai dan situ kini tinggal 33 saja, sehingga volume air tinggi mengalir kemana saja tidak terkendali
  • Iklim dan curah hujan yang tinggi, terus menerus dan unpredictable, sehingga volume air semakin banyak, sementara lokasi tampungan minim
  • Penurunan DAS Ciliwung dan beberapa sungai lainnya antara lain Kali Angke, Pesanggrahan, Cipinang dan Sunter
  • Pembangunan Rumah pinggir kali yang menyebabkan kerusakan sungai dan pengurangan DAS
  • Sampah yang semakin menumpuk dan belum teratasi, ini juga karena tabiat masyarakat yang sangat minim kesadarannya
  • Pembangunan Villa di daerah resapan air di Bogor semakin mengurangi daya resap tanah di Bogor
  • Volume air kiriman dari bogor yang belum tertanggulangi, menambah debit air banjir
  • Siklus air pasang laut jawa, yang menahan aliran sungai/ air banjir.Solusi jangka pendek





  • solusinya antara lain :

    1. Bantuan logistik, makanan, obat-obatan, air bersih dan tenda/ selimut
    2. Pembuatan dapur umum dan klinik darurat
    3. Patroli polisi untuk menjaga keamanan dari kemungkinan penjarahan
    4. Menentukan titik-titik khusus untuk pengendalian pengungsi dan pengendalian lalu lintas
    5. Pengamanan dokumen penting masing-masing keluarga
    6. Tidak buang sampah sembarangan
    7. Pengerukan sungai
    8. Pembuatan biopori



    Solusi jangka menengah

    1. Membuat satuan tugas gabungan (satgasgab) penanganan Banjir sekaligus percontohan nasional, antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BNPB dan lembaga lain seperti partai politik, lembaga zakat atau masyarakat umum, kerjasama ini penting agar korban banjir cepat tertanggulangi
    2. Evaluasi reklamasi pantai yang lebih terkondisi agar jangan malah memperparah banjir
    3. Memasang radar cuaca untuk memprediksi arah dan curah hujan, serta memodifikasi cuaca untuk mengurangi intesitas curah hujan
    4. Pemeliharaan sungai dan kanal, diantaranya pengerukan sungai dan pemeliharaan bendungan
    5. Tidak buang sampah sembarangan
    6. Pembuatan biopori
    7. Meningkatkan ruang hijau dan wilayah resapan air
    8. Mengendalikan dengan ketat pembuatan gedung pencakar langit dan penambahan komplek perumahan/ apartemen baru, atau villa, jika perlu dibatasi ketat
    9. Pelatihan kesiapan penanggulangan bencana pada masyarakat
    10. Membuat pola pengaturan lalu lintas alternatif dan pelatihan antisipasi lalu lintas saat banjir

    Solusi jangka panjang

    1. Integrasi tata kota dan tata drainase Jakarta, Bogor, Bekasi, Tangerang
    2. Membangun sewer bawah tanah yang mengarah ke laut, jangan hanya dipantai, namun hingga kelaut
    3. Tidak buang sampah sembarangan
    4. Pembuatan sistem pengolahan sampah baru
    5. Pembuatan situ dan kanal baru
    6. Membuat dan memperbaharui bendungan agar lebih tahan dan lebih multi fungsional
    7. Pemeliharaan sungai, kanal dan sewer
    8. Penyempurnaan jalur transportasi umum yang tahan banjir
    9. Pemindahan pusat pemerintahan dari Jakarta ke kota lain, atau penyebaran kantor-kantor pusat pemerintahan ke beberapa kota