”Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang di angkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman.”(Q.S. An Nahl: 79)

Surat An-Nahl ayat 79 di atas merupakan ayat yang paling terkait dengan atmosfer. Dalam ayat tersebut, terdapat kata jawwis samaa’i dimana jawwi berarti melindungi dan samaa’i berarti langit. Jadi, kata jawwis samaa’i berarti langit yang melindungi, yang dalam ayat tersebut diartikan sebagai angkasa bebas.
Kata ”burung” yang digunakan dalam ayat di atas, menunjukkan bahwa angkasa tersebut adalah batas tertinggi adanya kehidupan. Sebab burung tidak dapat terbang lebih tinggi dari jawwis samaa’i. Kata jawwis samaa’i ini juga diartikan sebagai ghilaful ardhil hawa’i atau penutup bumi yang masih terdapat hawa (udara yang digunakan untuk bernafas, oksigen).  
Jika dihubungkan dengan ilmu meteorologi, maka jawwis samaa’i dapat diartikan sebagai troposfer. Sebab troposfer merupakan lapisan atmosfer terendah yang masih mengandung oksigen dalam jumlah melimpah. Karena posisinya yang paling dekat dengan permukaan, maka densitas udara pada lapisan ini pun paling tinggi dibandingkan lapisan atmosfer lainnya.  
Lapisan troposfer atau jawwis samaa’i ini, juga merupakan tempat terjadinya fenomena cuaca seperti hujan dan angin. Dalam Al-Qur’an, fenomena cuaca dijelaskan dengan istilah yang berbeda-beda. Untuk angin kencang yang menyenangkan digunakan kata rih. Lalu kata jawwi untuk udara, dan hawa untuk udara yang bergerak. Khusus untuk hujan, proses terbentuknya diuraikan secara detail dalam surat An-Nuur ayat 43. Hal ini adalah salah satu isyarat ilmiah dari Al-Qur’an karena di Jazirah Arab hujan hanya turun 3 kali dalam setahun.
Isyarat ilmiah lain yang berkaitan dengan cuaca, dapat ditemukan dalam surat Ath-Thariq ayat 11. Dalam ayat tersebut digunakan kata raj’i yang berarti kembali, untuk menyebut kata ”hujan”. Ilmu meteorologi telah menjelaskan bahwa hujan berasal dari uap air yang naik dari Bumi ke udara, kemudian kembali turun ke Bumi, naik lagi ke atas dan kembali lagi ke Bumi, begitulah seterusnya.
Informasi mengenai lapisan atmosfer dan fenomena cuaca ternyata telah diberikan Al-Qur’an sejak 14 abad silam. Informasi ini baru dapat kita pahami setelah munculnya ilmu  meteorologi modern. Namun, di luar isyarat-isyarat ilmiah ini, ada satu hal yang perlu kita perhatikan. Setiap kali sebuah ayat Al-Qur’an membahas ciptaan Allah, ia selalu disertai dengan pertanyaan tentang Allah. Artinya, semua yang diciptakan-Nya telah diatur sedemikian rupa, dan tidak ada kekuatan lain yang mampu mengubahnya selain Allah SWT. Wallahu a’lam bisshowab.
  Atmosfer dalam istilah ilmu geologi adalah lapisan gas di sekitar bola dunia. Atmosfer dari segi kegunaan dan fungsinya memiliki tujuh lapisan.
Ada beberapa ayat Al-Quran yang menjelaskan bergunanya lapisan-lapisan gas atau atmosfer itu bagi kita. Misalnya Allah Swt berfirman:
﴿وَ جَعَلْنَا السَّماءَ سَقْفاً مَحْفُوظاً وَ هُمْ عَنْ آیاتِها مُعْرِضُونَ﴾
“Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya.” (Qs. Al-Anbiya’ [21]: 32)

Dikarenakan ketenangan yang ada di bumi tidak cukup untuk ketenangan hidup manusia, dan diperlukan penjaga di atas atap yang dapat menjaganya dari runtuhan benda-benda langit, karena itu Allah berfirman demikian.
Yang dimaksud dengan langit di sini adalah atmosfer yang mengitari bumi, yang ketebalannya beratus-ratus kilometer. Lapisan tersebut sepertinya lembut dan tersusun dari kumpulan gas dan udara, namun juga tebal hingga dapat membakar benda-benda langit yang berjatuhan ke bumi karena gesekan dengannya. Dengan demikian permukaan bumi aman dari serangan meteor dan jatuhnya benda-benda lainnya.
Jawaban Detil
Atmosfer adalah lapisan-lapisan gas yang menyelimuti bumi.[1] Dalam istilah ilmu geologi definisinya adalah: Atmosfer adalah selubung gas di sekitar bumi.[2] Lapisan paling rendahnya adalah permukaan bumi dan lapisan paling atas tidak ada pembatasnya. Menurut para ilmuan, ketebalan atmosfer lebih dari 1000 kilometer.[3]
Dalam pembahasan geologi dan meteorologi, atmosfer memiliki lapisan-lapisan berikut ini: Torosphere, Stratosphere, Mesosphere, Ionosphere, Exosphere, Magnetosphere dan Angin Matahari. Ada juga yang mengatakan: Lapisan-lapisan atmosfer dikategorikan berdasarkan berbagai tolak ukur, misalnya dari segi suhu udara, lapisan atomsfer dibagi menjadi lima bagian.[4]
Sebagian ilmuan yang meyakini kemukjizatan Al-Quran dalam ilmu pengetahuan berkeyakinan bahwa dari segi fungsi dan kegunaan, kitab suci ini membagi lapisan-lapisan atmosfer menjadi tujuh lapis, yang mana menurut ilmu geologi secara urut lapisan-lapisan itu adalah: Torosphere, Stratosphere, Mesosphere, Ionosphere dan Exosphere.[5]
Meskipun atmosfer adalah istilah baru, namun banyak ayat Al-Quran yang menyinggung keberadaannya. Di sini kita akan mengisyarahkan tiga contoh di antaranya:
  1. Allah Swt berfirman:
﴿وَ جَعَلْنَا السَّماءَ سَقْفاً مَحْفُوظاً وَ هُمْ عَنْ آیاتِها مُعْرِضُونَ﴾
“Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya.” (Qs. Al-Anbiya’ [21] : 32)
Karena kenyamanan di muka bumi saja tidak cukup, dan perlu penjaga dari bahaya benda-benda luar angkasa, Allah Swt menciptakan atap untuk bumi berupa “langit” (yakni atmosfer) yang merupakan tanda kebesaran-Nya.
Yang dimaksud dengan “langit” di ayat tersebut adalah lapisan udara yang ketebalanya ratusan kilometer. Lapisan-lapisan udara itu tersusun dari kumpulan gas yang meliputi permukaan bumi. Atmosfer, atau lapisan-lapisan udara tersebut, meski terlihat lembut karena hanya sekedar udara dan gas, namun dikarenakan ketebalannya, setiap benda angkasa yang jatuh ke permukaan bumi sebelum menyentuh daratan sudah habis terbakar terlebih dahulu karena gesekannya. Keberadaan atmosfer-lah yang menjaga muka bumi dari serangan meteor-meteor.[6]
 
  1. Allah Swt juga berfirman:
﴿و ثُمَّ اسْتَوى‏ إِلَى السَّماءِ وَ هِیَ دُخانٌ فَقالَ لَها وَ لِلْأَرْضِ ائْتِیا طَوْعاً أَوْ کَرْهاً قالَتا أَتَیْنا طائِعینَ﴾
“Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa." Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati."” (QS. Fushilat [41] : 11)

Sayid Hibatuddin Syahristani berkeyakinan bahwa yang dimaksud dengan kata “langit” dan “asap” di ayat itu adalah atmosfer. Sebelum memberikan penjelasan tersebut, mulanya ia menyebutkan arti-arti dari kata “langit” (sama’); sebagaimana yang ia jelaskan, menurut masyarakat awam yang dimaksud dengan “langit” adalah “segala sesuatu yang berada di atas bumi.” Lalu dalam istilah teknis agama kata “langit” memiliki beberapa arti:
Pertama, udara yang ada di atas bumi dan ruang hampa;
Kedua, selubung udara yang lebar dan menyelimuti bumi;
Ketiga, planet-planet dan benda langit di angkasa.
Lalu ia berkata: Jika “langit” itu dapat diartikan sebagai setiap maujud yang ada di atas, lalu apa salahnya jika kita artikan langit sebagai selubung gas dan udara yang menyelimuti bumi kita ini? Kemudian dia membawakan puluhan dalil dari ayat dan riwayat untuk membuktikan bahwa maksud “langit” adalah atmosfer bumi kita. Misalnya ayat 11 surah Fushilat adalah salah satu dari dalilnya; dan begitu juga riwayat-riwayat yang menyinggung bahwa bumi tercipta dari kumpulan asap. Asap di ayat suci itu diartikan sebagai uap, yang kesimpulannya ia jelaskan begini: Berdasarkan berbagai riwayat yang ditemukan, maksud dari asap adalah uap; namun karena asap dan uap berasal dari satu sumber, atau karena keduanya mirip, oleh karena itu kata “asap” digunakan untuk makna uap. Maka riwayat-riwayat yang kami temukan menjadi saksi bahwa seluruh langit yang berjumlah tujuh yang menyelubungi tujuh bumi tercipta dari uap.[7]
Banyak mufasir lain yang memberikan kemungkinan yang sama.[8] (Ya, banyak sekali pendapat-pendapat ahli tafsir lainnya).
 
  1. Ia berfirman pula:
﴿وَ بَنَیْنا فَوْقَکُمْ سَبْعاً شِداداً﴾
“Dan Kami bina di atas kamu tujuh buah (langit) yang kokoh,” (Qs. An-Naba’ [78] : 12)

Satu lagi kemungkinan yang ada berkenaan dengan ayat suci ini: yang dimaksud adalah tingkatan-tingkatan udara di bumi atau atmosfer.[9] Yang meskipun kelihatannya hanya sekedar udara dan tidak memiliki kepadatan, namun jika ada benda dari angasa yang jatuh ke bumi dia akan terbakar hangus hingga menghilang sebelum menyentuh permukaan bumi. Jika lapisan atmosfer ini tidak ada, maka kehidupan manusia di muka bumi akan hancur begitu saja terkena jatuhan benda-benda angkasa.[10]
Atmosfer memberikan kenyamanan hidup bagi para penghuni bumi. Jelas ini semua adalah karunia Ilahi dan merupakan rahmat serta kasih sayang dari-Nya, sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Qur’an. 
Atmosfir bumi adalah lapisan udara yang mengelilingi atau menyelubungi bumi yang bersama-sama dengan bumi melakukan rotasi dan berevolusi mengelilingi matahari. Udara yang terkandung dalam atmosfir merupakan campuran dan kombinasi dari gas, debu dan uap air. Atmosfir berguna untuk melindungi makhluk hidup yang yang ada di muka bumi karena membantu menjaga stabilitas suhu udara siang dan malam, menyerap radiasi dan sinar ultraviolet yang sangat berbahaya bagi manusia dan makhluk bumi lainnya.
Kandungan dalam lapisan atmosfir bumi
- Nitrogen 78,17%
– Oksigen 20,97%
– Argon 0,98%
– Karbon dioksida 0,04%
– Sisanya adalah zat lain seperti kripton, neon, xenon, helium, higrom dan ozon.
Lapisan-lapisan atmosfer bumi terdiri dari :
1. Troposfer / Troposfir
Ketinggian troposfer : 0 – 15 km
Suhu lapisan troposfir : 17 – -52 derajat celcius
Kurang lebih 80% gas atmosfer berada pada bagian ini
2. Stratosfer / Stratosfir
Ketinggian stratosfer : 15 – 40 km
Suhu lapisan stratosfer : -57 derajat celcius
Lapisan ozon yang memblokir atau menahan sinar ultraviolet berada pada lapisan ini.
3. Mesosfer / Mesosfir
Ketebalan Mesosfer : 45 – 75 km
Suhu lapisan stratosfer : -140 derajat celcius
Suhu yang sangat rendah dan dingin dapat menyebabkan awan noctilucent yang terdiri atas kristal-kristal es
4. Thermosfer / Thermosfir
Ketebalan themosfer : 75 – 100 km
Suhu lapisan stratosfer : 80 derajat celcius
5. Ionosfer / Ionosfir
Ketebalan ionosfer : 50 – 100 km
Adalah lapisan yang bersifat memantulkan gelombang radio. Karena ada penyerapan radiasi dan sinar ultra violet maka menyebabkan timbul lapisan bermuatan listrik yang suhunya menjadi tinggi
6. Eksosfer / Eksosfir
Ketebalan eksosfer : 500 – 700 km
Suhu lapisan stratosfer : -57 derajat celcius
Tidak memiliki tekanan udara yaitu sebesar 0 cmHg