Banjir secara sederhana didefinisikan sebagai meluapnya air dari saluran air (sungai, gorong-gorong) karena kelebihan debit air. Air pada prinsipnya tidak pernah menghilang karena air mengalami perputaran atau siklus air. Air dari laut atau darat menguap menjadi awan, jadilah turun hujan. Mengalir kembali lewat sungai atau meresap ke tanah dan nantinya kembali ke laut. Jika siklus air ini tidak seimbang maka dapat menyebabkan banjir.
Banjir disebabkan karena setoran air yang melebihi batas daya tampungnya. Daya tampung di sini adalah ukuran dari sungai atau kecepatan resapan ke tanah. Debit yang berlebihan ini secara umum disebabkan oleh :
- Curah hujan tinggi dan terus menerus
- Kiriman air dari daerah yang lebih tinggi.
Khusus untuk kejadian banjir di Jakarta kemaren, dua hal tersebut yang menjadi penyebabnya. Lalu, bagaimana cara mengatasi atau meminalisasi banjir?
1. Menghitung debit air pada saat worst-case (atau kasus terburuk). Langkah ini digunakan untuk menghitung volume air yang masuk dalam waktu tertentu terutama dalam kondisi terburuk. Kondisi terburuk dapat mengacu kepada kejadian bencana terburuk terakhir. Debit air baik dari curah hujan maupun kiriman harus bisa dihitung dalam rentang rata-rata serta maksimumnya.
2. Hasil perhitungan debit air ini digunakan sebagai acuan untuk evaluasi apakah kanal air yang dimiliki saat ini sudah cukup atau belum. Jika belum maka dapat dilakukan dengan :
- Menambah kanal air atau kanal banjir
- Mengeruk sungai yang dangkal
- Memperlebar sungai dengan cara mengurangi pemukiman di pinggir sungai.
- Membuat banyak terowongan air atau gorong-gorong ukuran besar
- Atau yang ekstrim adalah membuat tandon raksasa semacam waduk untuk
3. Langkah yang lain adalah membuat air cepat meresap ke tanah. Karena supaya tidak banjir maka air harus dialirkan ke tempat yang lebih rendah atau meresap ke tanah.
Untuk itu, kota-kota besar semacam Jakarta seharusnya sudah harus semakin gencar membuat resapan air hujan. Ruang terbuka harus semakin diperbanyak, ruang hijau juga diperbanyak. Daerah-daerah yang potensial buat resapan air jangan dibuat untuk bangunan. Harus ada daerah atau titik tertentu yang dikorbankan untuk tidak dibangun apa-apa khusus untuk resapan air saja. Jakarta saat ini sudah banyak gedung, jalan aspal, jalan dibeton, sehingga resapan untuk air semakin berkurang.
4. Kepedulian terhadap banjir
Salah satu isu penting dalam menghadapi banjir adalah kepedulian masyarakat termasuk pimpinan daerah dalam mengelola kota dengan lebih baik. Jika pimpinan hanya mengedapankan bisnis tanpa memperhatikan aspek lingkungan maka lama-lama bisnis juga tidak jalan karena kondisi banjir di mana-mana. Masyarakat juga harus lebih sadar, misal dengan tidak membuang sampah di sungai, inisiatif membuat sumur resapan, dengan sukarela tidak membangun di bantaran sungai, dsb. Jika masyarakat telah teredukasi dan melakukan ini semua untuk kepentingan bersama maka bencana banjir dapat dihindarkan sedini mungkin.
Banjir bukan hanya tanggung jawab Pemerintah Daerah saja tetapi tanggung jawab kita bersama.
Meski hal ini masih jauh dari harapan, kita tetap harus optimis dan positif bahwa bangsa kita mau berubah. Semoga dengan bencana seperti ini, kita lebih semakin sadar dan mau peduli terhadap alam dan lingkungan.
penyebabnya yang lain adalah
- Bantuan logistik, makanan, obat-obatan, air bersih dan tenda/ selimut
- Pembuatan dapur umum dan klinik darurat
- Patroli polisi untuk menjaga keamanan dari kemungkinan penjarahan
- Menentukan titik-titik khusus untuk pengendalian pengungsi dan pengendalian lalu lintas
- Pengamanan dokumen penting masing-masing keluarga
- Tidak buang sampah sembarangan
- Pengerukan sungai
- Pembuatan biopori
Solusi jangka menengah
- Membuat satuan tugas gabungan (satgasgab) penanganan Banjir sekaligus percontohan nasional, antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BNPB dan lembaga lain seperti partai politik, lembaga zakat atau masyarakat umum, kerjasama ini penting agar korban banjir cepat tertanggulangi
- Evaluasi reklamasi pantai yang lebih terkondisi agar jangan malah memperparah banjir
- Memasang radar cuaca untuk memprediksi arah dan curah hujan, serta memodifikasi cuaca untuk mengurangi intesitas curah hujan
- Pemeliharaan sungai dan kanal, diantaranya pengerukan sungai dan pemeliharaan bendungan
- Tidak buang sampah sembarangan
- Pembuatan biopori
- Meningkatkan ruang hijau dan wilayah resapan air
- Mengendalikan dengan ketat pembuatan gedung pencakar langit dan penambahan komplek perumahan/ apartemen baru, atau villa, jika perlu dibatasi ketat
- Pelatihan kesiapan penanggulangan bencana pada masyarakat
- Membuat pola pengaturan lalu lintas alternatif dan pelatihan antisipasi lalu lintas saat banjir
Solusi jangka panjang
- Integrasi tata kota dan tata drainase Jakarta, Bogor, Bekasi, Tangerang
- Membangun sewer bawah tanah yang mengarah ke laut, jangan hanya dipantai, namun hingga kelaut
- Tidak buang sampah sembarangan
- Pembuatan sistem pengolahan sampah baru
- Pembuatan situ dan kanal baru
- Membuat dan memperbaharui bendungan agar lebih tahan dan lebih multi fungsional
- Pemeliharaan sungai, kanal dan sewer
- Penyempurnaan jalur transportasi umum yang tahan banjir
- Pemindahan pusat pemerintahan dari Jakarta ke kota lain, atau penyebaran kantor-kantor pusat pemerintahan ke beberapa kota
No comments:
Post a Comment